Rabu, 26 November 2014

SOP / PROTAP PENANGANAN RUPTURA UTERI

RUPTURA UTERI
 

STANDAR PELAYANAN MEDIS
No.Dokumen  ……………. Revisi 0 Halaman  1 dari 2
Tanggal Terbit : 

…………………
Ditetapkan,  Direktur


Definisi : Robeknya dinding uterus, pada saat kehamilan atau dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya peritoneum visceral.
Kriteria Diagnosa : -          Sakit perut mendadak  -          Perdarahan pervaginam
-          Renjatan yang cenderung tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar karena adanya perdarahan intraabdominal
-          Adanya lokus minoris pada rahim, trauma, partus
Diagnosa Banding : -          Mola destruens  -          Kehamilan ektopik lanjut terganggu
Pemeriksaan     penunjang : Hemoglobin dan hematokrit darah, PO2, PCO2 dan ph darah, elektrolit darah
Standar tenaga : Dokter Kebidanan dan Kandungan
Perawatan RS : Perawatan rutin pasca bedah (7-10 hari)
Terapi
-          Mengatasi syok dengan segera, termasuk infuse cairan intravena  -          Pemberian darah, oksigen dan antibiotic
-          Segera, laparotomi, bila ditemukan rupture uteri lakukan histerektomi akan tetapi pada kasus-kasus tertentu seperti robekan yang kecil dan tidak compang-camping dan masih segar dapat dilakukan histerografi terutama pada mereka yang masih muda atau belum mempunyai anak hidup
-          Sumber perdarahan dihentikan
Penyulit
-          Sepsis  -          Renjatan Irreversibel
Informed Consent
Perlu
Konsultasi
-
Lama Perawatan
1 minggu
Masa Pemulihan
3 bulan
Output
- sembuh total  - sembuh parsial
- Fistula vesiko-vagina.
PA
Jaringan uterus yang diangkat
Otopsi
-
Referensi
.1. Cunninghan, Mac Donald, Cant. William. Obstetrics. Eigteenth Ed. Appleton & lange, 1989.  2.   Friedman, Acker, Sachs, Obstetrical Decision Making. Second Ed. Manly, Graphic Asian Edition, 1988.
   
ABSES TUBO OVARIAL
 

STANDAR PELAYANAN MEDIS
No.Dokumen  ……………. Revisi 0 Halaman  1 dari 2
Tanggal Terbit : 

…………………
Ditetapkan,  Direktur


Definisi : Abses Tubo-ovarial (ATO) adalah radang bernanah yang terjadi pada ovarium dan atau tuba fallopii pada satu sisi atau kedua sisi adneksa.
Kriteria Diagnosa : -         Berdasarkan gejala klinis dan anamnesis pernah infeksi daerah panggul dengan umur antara 30-40 tahun, dimana 25-50% nya adalah nulipara.  -         Pemeriksaan lab, x foto, usg, pungsi douglas
Diagnosa Banding : ATO utuh dan belum memberi keluhan :  -         kistoma ovarii, tumor ovarium.
-         kehamilan ektopik yang utuh.
-         abses peri-apendikuler.
-         mioma uteri.
-         hidrosalping.
ATO utuh dengan keluhan :
-         perforasi apendik.
-         perforasi divertikel/abses divertikel.
-         perforasi ulkus peptikum.
-         kelainan sitemik yang memberi distres akut abdominal.
-         kistoma ovarii terinfeksi atau terpuntir.
Pemeriksaan     penunjang : -         Pemeriksaan laboratorium; lekositosis ( 60-80% dari kasus ), peningkatan LED.  -         X foto abdomen dilakukan bila ada tanda-tanda ileus, dan atau curiga adanya masa di adneksa.
-         Ultrasonografi; bisa dipakai pada kecurigaan adanya ATO atau adanya masa di adneksa, melihat ada tidaknya pembentukan kantung-kantung pus, dapat untuk evaluasi kemajuan terapi.
-         Punksi Douglas dilakukan bila pada VT : cabum Douglas teraba menonjoL Pada ATO yang utuh, mungkin didapatkan cairan akibat reaksi jaringan. Pada ATO yang pecah atau pada abses yang mengisi cavum Douglas, didapat pus pada lebih 70% kasus.
Standar tenaga : Dokter Kebidanan dan Kandungan
Perawatan RS : 7 hari atau lebih tergantung komplikasi
Terapi
Curiga ATO utuh tanpa gej ala :  -         Antibiotika, dengan masih dipertimbangkan pemakaian golongan :
Doksisiklin 2 x 100 mg/hari selama 1 minggu, atau
Ampisilin 4 x 500 mg/hari selama 1 minggu.
-           Pengawasan lanjut, bila masa tak mengecil dalam 14 hari ata.u makin membesar adalah indikasi untuk penanganan lebih lanjut, dengan kemungkinan untuk laparatomi.
ATO utuh dengan gejala :
-      Masuk Rumah Sakit, tirah baring posisi ”semi Fowler”, observasi ketat tanda vital dan produksi urine, periksa lingkar abdomen, k/p pasang infus PZ.
-      Antibiotik masif ( bila,mungkin gol. Beta lactan) , minimal 48-72 jam.
Gol. Ampisilin 4 x 1-2 gr/hari, iv selama 5-7 hari dan
Gentamin 55 mg/kg BB/hari, iv/im. Terbagi dalam 2x/hari selama 5-7 hari dan     Metronida7ole I gr rek.sup 2 xihari atau,
Kloramfenikol 50 mg/kg BB/hari, iv selama 5 hari
Metronidazol atau sefalosporin generasi III 2-3 x I gr/sehari dan Metronidazol 2 x 1 gr selama 5-7 hari.
-     Pengawasan ketat mengenai keberhasilan terapi.
-     k/p dilanjutkan laparatomi : SO unilateral, atau pengangkatan seluruh organ genitalia interna.
ATO yang pecah, merupakan kasus darurat : dilakukan laparatomi, pasang drain, kultur nanah.
-     setelah dilakukan laparatomi, diberikan Sefalosporin generasi III dan Metronidazol 2 x 1 gr selama 7 hari ( 1 minggu ).
Penyulit
ATO yang utuh :  -         pecah sampai sepsis, terinfeksi dikemudian hari, ileus, infertilitas, kehamilan ektopik.
ATO yang pecah :
-         syok sepsis, abses intra abdominal, abses subkronik, abses paru / otak.
Informed Consent
Perlu sebelum dilakukan tindakan
Konsultasi
Penyakit dalam, bedah, anastesi
Lama Perawatan
7 hari atau lebih
Masa Pemulihan
2 minggu
Output
Sembuh, berulang, menetap
PA
Perlu
Otopsi
-
Referensi
1. Hutabarat H; Radang dan beberapa penyakit lain in pada alat genitalia wanita, dalam Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta, 1982. Edisi pertama, hal. 233.  2.   Jones III, HW : Tubolarian Abscess, in Novak’s Textbook of Gynecbtogy, William A,
Cynningham F.C.: Pelvic infection, ini Current Obstetrics & Gynaecdlogic Diagnosis
& Treatment, Lange Medical Publication, California, 3rd.ed, 314, 1980.
3.   Nasabitt Robert EL : Pelvic infections, in Rypine Medical Licensus Examination. JB Lippincott Coy, Philadelphia, 14th.ed, 857-8, 1985.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar