SOP / PROTAP PENANGANAN RUPTURA UTERI
| RUPTURA UTERI | ||||
|
STANDAR PELAYANAN MEDIS |
No.Dokumen ……………. | Revisi 0 | Halaman 1 dari 2 | |
| Tanggal Terbit :
………………… |
Ditetapkan,
Direktur |
|||
| Definisi | : | Robeknya dinding uterus, pada saat kehamilan atau dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya peritoneum visceral. | ||
| Kriteria Diagnosa | : | - Sakit perut mendadak
- Perdarahan pervaginam - Renjatan yang cenderung tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar karena adanya perdarahan intraabdominal - Adanya lokus minoris pada rahim, trauma, partus |
||
| Diagnosa Banding | : | - Mola destruens - Kehamilan ektopik lanjut terganggu | ||
| Pemeriksaan penunjang | : | Hemoglobin dan hematokrit darah, PO2, PCO2 dan ph darah, elektrolit darah | ||
| Standar tenaga | : | Dokter Kebidanan dan Kandungan | ||
| Perawatan RS | : | Perawatan rutin pasca bedah (7-10 hari) | ||
| Terapi | - Mengatasi syok dengan segera, termasuk infuse cairan intravena
- Pemberian darah, oksigen dan antibiotic - Segera, laparotomi, bila ditemukan rupture uteri lakukan histerektomi akan tetapi pada kasus-kasus tertentu seperti robekan yang kecil dan tidak compang-camping dan masih segar dapat dilakukan histerografi terutama pada mereka yang masih muda atau belum mempunyai anak hidup - Sumber perdarahan dihentikan |
|||
| Penyulit | - Sepsis - Renjatan Irreversibel | |||
| Informed Consent | Perlu | |||
| Konsultasi | - | |||
| Lama Perawatan | 1 minggu | |||
| Masa Pemulihan | 3 bulan | |||
| Output | - sembuh total
- sembuh parsial - Fistula vesiko-vagina. |
|||
| PA | Jaringan uterus yang diangkat | |||
| Otopsi | - | |||
| Referensi | .1. Cunninghan, Mac Donald, Cant. William. Obstetrics. Eigteenth Ed. Appleton & lange, 1989. 2. Friedman, Acker, Sachs, Obstetrical Decision Making. Second Ed. Manly, Graphic Asian Edition, 1988. | |||
|
ABSES TUBO OVARIAL |
||||
|
STANDAR PELAYANAN MEDIS |
No.Dokumen ……………. | Revisi 0 | Halaman 1 dari 2 | |
| Tanggal Terbit :
………………… |
Ditetapkan,
Direktur |
|||
| Definisi | : | Abses Tubo-ovarial (ATO) adalah radang bernanah yang terjadi pada ovarium dan atau tuba fallopii pada satu sisi atau kedua sisi adneksa. | ||
| Kriteria Diagnosa | : | - Berdasarkan gejala klinis dan anamnesis pernah infeksi daerah panggul dengan umur antara 30-40 tahun, dimana 25-50% nya adalah nulipara. - Pemeriksaan lab, x foto, usg, pungsi douglas | ||
| Diagnosa Banding | : | ATO utuh dan belum memberi keluhan :
- kistoma ovarii, tumor ovarium. - kehamilan ektopik yang utuh. - abses peri-apendikuler. - mioma uteri. - hidrosalping. ATO utuh dengan keluhan : - perforasi apendik. - perforasi divertikel/abses divertikel. - perforasi ulkus peptikum. - kelainan sitemik yang memberi distres akut abdominal. - kistoma ovarii terinfeksi atau terpuntir. |
||
| Pemeriksaan penunjang | : | - Pemeriksaan laboratorium; lekositosis ( 60-80% dari kasus ), peningkatan LED.
- X foto abdomen dilakukan bila ada tanda-tanda ileus, dan atau curiga adanya masa di adneksa. - Ultrasonografi; bisa dipakai pada kecurigaan adanya ATO atau adanya masa di adneksa, melihat ada tidaknya pembentukan kantung-kantung pus, dapat untuk evaluasi kemajuan terapi. - Punksi Douglas dilakukan bila pada VT : cabum Douglas teraba menonjoL Pada ATO yang utuh, mungkin didapatkan cairan akibat reaksi jaringan. Pada ATO yang pecah atau pada abses yang mengisi cavum Douglas, didapat pus pada lebih 70% kasus. |
||
| Standar tenaga | : | Dokter Kebidanan dan Kandungan | ||
| Perawatan RS | : | 7 hari atau lebih tergantung komplikasi | ||
| Terapi | Curiga ATO utuh tanpa gej ala :
- Antibiotika, dengan masih dipertimbangkan pemakaian golongan : Doksisiklin 2 x 100 mg/hari selama 1 minggu, atau Ampisilin 4 x 500 mg/hari selama 1 minggu. - Pengawasan lanjut, bila masa tak mengecil dalam 14 hari ata.u makin membesar adalah indikasi untuk penanganan lebih lanjut, dengan kemungkinan untuk laparatomi. ATO utuh dengan gejala : - Masuk Rumah Sakit, tirah baring posisi ”semi Fowler”, observasi ketat tanda vital dan produksi urine, periksa lingkar abdomen, k/p pasang infus PZ. - Antibiotik masif ( bila,mungkin gol. Beta lactan) , minimal 48-72 jam. Gol. Ampisilin 4 x 1-2 gr/hari, iv selama 5-7 hari dan Gentamin 55 mg/kg BB/hari, iv/im. Terbagi dalam 2x/hari selama 5-7 hari dan Metronida7ole I gr rek.sup 2 xihari atau, Kloramfenikol 50 mg/kg BB/hari, iv selama 5 hari Metronidazol atau sefalosporin generasi III 2-3 x I gr/sehari dan Metronidazol 2 x 1 gr selama 5-7 hari. - Pengawasan ketat mengenai keberhasilan terapi. - k/p dilanjutkan laparatomi : SO unilateral, atau pengangkatan seluruh organ genitalia interna. ATO yang pecah, merupakan kasus darurat : dilakukan laparatomi, pasang drain, kultur nanah. - setelah dilakukan laparatomi, diberikan Sefalosporin generasi III dan Metronidazol 2 x 1 gr selama 7 hari ( 1 minggu ). |
|||
| Penyulit | ATO yang utuh :
- pecah sampai sepsis, terinfeksi dikemudian hari, ileus, infertilitas, kehamilan ektopik. ATO yang pecah : - syok sepsis, abses intra abdominal, abses subkronik, abses paru / otak. |
|||
| Informed Consent | Perlu sebelum dilakukan tindakan | |||
| Konsultasi | Penyakit dalam, bedah, anastesi | |||
| Lama Perawatan | 7 hari atau lebih | |||
| Masa Pemulihan | 2 minggu | |||
| Output | Sembuh, berulang, menetap | |||
| PA | Perlu | |||
| Otopsi | - | |||
| Referensi | 1. Hutabarat H; Radang dan
beberapa penyakit lain in pada alat genitalia wanita, dalam Ilmu
Kandungan. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta, 1982. Edisi pertama, hal.
233.
2. Jones III, HW : Tubolarian Abscess, in Novak’s Textbook of Gynecbtogy, William A, Cynningham F.C.: Pelvic infection, ini Current Obstetrics & Gynaecdlogic Diagnosis & Treatment, Lange Medical Publication, California, 3rd.ed, 314, 1980. 3. Nasabitt Robert EL : Pelvic infections, in Rypine Medical Licensus Examination. JB Lippincott Coy, Philadelphia, 14th.ed, 857-8, 1985. |
|||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar